Tag Archives: kultum Ramadhan

KHUTBAH IDUL FITRI : KONSISTENSI TAQWA PASCA RAMADHAN

KHUTBAH IDUL FITRI
KONSISTENSI TAQWA PASCA RAMADHAN

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَتَبَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ الصِّيَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الُقُرْانَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْـدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَّلِّ وسلم عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَأَصْـحَابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى اخِرِ الزَّمَانِ، أما بعد: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قـَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي الْـقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ:

Maasyiral Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah :
Hari ini adalah hari kemenangan buat kita Umat Islam, karena hari ini kita Insya Allah telah lulus dan diwisuda dari Universitas Ramadhan, dengan gelar Muttaqin. Dengan memetik pelajaran yang banyak, pelatihan yang kontinu, ujian yang berat, semua kita lalui dengan penuh kesabaran, kegigihan, ketekunan dan keikhlasan karena Allah. Namun nilai kelulusan setiap orang tentu berbeda satu dengan yang lainnya, Pengumuman hasil kelulusan dan Nilai Raport dari Ketaqwaan kita bisa dibaca dalam Al-Quran 2: 1-5. Continue reading →

Iklan

SEMANGAT BERINTERAKSI DENGAN AL QURAN

Al-Quran sebagai Petunjuk Kehidupan

Setiap orang yang mengadakan perjalanan baik ke luar negeri, ke tengah hutan, mendaki gunung maka hal yang paling penting dipegang adalah petunjuk jalan baik itu peta, GPS, kompas, arah atau rambu jalan dsb sebab tanpa petunjuk maka alamat akan tersesat ditengah jalan. Maka ketika kita ingin meniti jalan selamat sampai ke surga, kita membutuhkan petunjuk agar tidak tersesat ke neraka. Allah SWT berfirman

  1. Alif laam miin[10].
  2. Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],

Al-Quran diturunkan Pertama kali

Kapan Al-Quran diturunkan ? Para Ulama dan Ahli Sejarah berbeda Pendapat tentang Kapan peristiwa turunnya Al-Quran. Ada yang mengatakan bulan Rajab, ada yang mengatakan bulan Ramadhan. dan terjadi juga pendapat tentang tanggal pastinya turun di Bulan Ramadhan.

Tapi jika kita merujuk kepada Al-Quran kita temukan di beberapa ayat :

  1. Al-Quran turun bulan Ramadhan Al-Baqarah 185

Al-Quran turun malam Lailatul Qadar AlQadr 1 dan Ad Dukhan 3

Jadi apapun versinya, yang jelas Al-Quran turun bulan Ramadhan dan di Malam Kemuliaan dan Berkah (lailatul Qadr).

 

Ayat Pertama Turun

 

Sebagaimana yang sudah kita mafhum, dan sudah sering kita dengar bahwa Ayat pertama yang turun adalah surat Al-Alaq 1-5

Ketika itu Nabi sedang bertahannuts di Gua Hiro, di Jabal Nur. kemudian datanglah Jibril menemui Nabi dan menyampaikan wahyu “iqra bismirabbikalladzi khalaq”

Nabi pun pulang dengan sangat ketakutan dan meminta istrinya Khadijah untuk menyelimutinya, Khadijah menanyakan kepada beliau apa yang menimpanya. Rasulullah menceritakan kejadian yang dialaminya ketika berada di Gua Hiro.

Kemudian Khadijah berangkat menemui pamannya Waraqah bin Naufal, seorang pendeta nashrani yang mengusai Kitab. Lalu Khadijah menceritakan kejadian yang menimpa Nabi. Waraqah mengatakan itu adalah Malaikat yang sama yang turun kepada Nabi Musa. Jika saja aku masih muda dan masih hidup kelak ketika kaummu mengusirmu. Aku pasti akan menjadi pembelamu. Nabi berkata “apakah kaumku akan mengusirku” Waraqah menjawab “tidak ada Nabi yang membawa Perintah Tuhan yang tidak diusir oleh kaumnya.

Al-Quran turun berangsur-angsur.

Kemudian setelah wahyu pertama turun, Al-Quran pun mulai turun secara berangsur-angsur kepada Nabi. Lamanya sekitar 23 tahun. Ada yang turun ketika Nabi berada di Makkah disebut Ayat Makkiyah 13 tahun lamanya dan ada yang turun di madinah (Madaniyyah) 10 tahun

Apa Hikmahnya :

  1. Untuk menetapkan / memantapkan Al-Quran itu kedalam hati Nabi QS Al-Furqan 32
  1. berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah[1066] supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
  2. Penyampaian kepada manusia secara perlahan agar mudah diterima dan dimengerti. (Al-Isra 106)

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

Ayat Terakhir Turun Continue reading →

BERPUASA TANDA BERSYUKUR

Salah satu tujuan dari puasa adalah la’allakum tasykurun membentuk pribadi yang bersyukur.

Syukur, apa makna syukur?

Kata “syukur” adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan

lega, senang, dan sebagainya).

DalamAl-Qurankata “syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 64 kali

Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata “syukur” mengandung arti

تصور النعمة وإظهارها

“gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.” Kata ini berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup –(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih. Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yangdiabadikan Al-Quran:  Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).

Bagaimana Cara Bersyukur

Ada 3 cara bersyukur :

  1. Syukur dengan hati

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas bantuan Ilahi, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya (Baca kisahnya dalam surat Al-Qashash (28): 76-82)

  1. Syukur dengan lidah

Al-Quran, mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi “al-hamdulillah.” Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji,walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain.

Kata”al” pada “al-hamdulillah” oleh pakar-pakar bahasa disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti “keseluruhan”. Sehinggakata”al-hamdu”yangditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.

3.      Syukur dengan Perbuatan

Yaitu dengan menggunakan segala fasilitas nikmat yang Allah berikan dengan baik dan sesuai dengan hak/peruntukannya

Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan,

Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! Sedikit sekali diantara hambaKU yang bersyukur(QS Saba [34]: 13).

Jadi tidak cukup syukur hanya dibibir saja tapi harus ada actionnya juga, makanya dalam AlQur’an kata Amanu (orang yg beriman) selalu bergandeng dengan amilus sholihat (action yang positif), jadi tidak sekedar teori saja.

Allah sudah memberi kita fasilitas alam ini, tinggal kita sebagai khalifah di muka bumi ini yang harus mengolahnya. Kita harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada diri kita, jgn berangan-angan jadi kaya kalau seharian Cuma main catur. Ini sama sekali tidak sejalan dengan konsep syukur.

 Apa Yang Harus Disyukuri

Apa yang harus kita syukuri? Tentunya Nikmat. diantara nikmat-nikmat-Nya yang mengharuskan adanya syukur dalam Al-Qur’an. antara lain:

  1. Kehidupan dan kematian

Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat)Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan, kemudian kamu dimatikan, lalu dihidupkan kembali. (QS A1Baqarah [2]: 28).

Kehidupan kita ini adalah nikmat yang sangat besar yang Allah berikan kepada kita, maka pergunakanlah hidup ini sesuai dengan kehendak pemiliknya, sesuai dengan tuntunan hidup yang telah digariskan Allah.

Kematian juga merupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bayangkan jika tak ada orang yang mati maka pastilah bumi ini akan menjadi sempit dan penuh.

Continue reading →

PENYAKIT HATI

Bahan Kultum, Ceramah

PENYAKIT HATI

Rasulullah menjelaskan bahwa didalam tubuh ada sepotong daging yang apabila dia baik maka seluruh tubuh akan menjadi baik, akan tetapi jika daging tsb sakit maka seluruh tubuh akan ikut sakit, daging itu adalah Hati.

Hati merupakan kunci dari kesehatan tubuh, dan juga akar dari penyakit, kalau hati sakit maka bisa mengakibatkan stres, penyakit jantung, stroke, gula, dan berbagai penyakit lainnya. Untuk itu hati ini harus senantiasa dijaga agar tetap sehat dan dihindarkan dari penyakit.

Ada beberapa penyakit yang harus senantiasa dihindari, atau jika sudah terjangkit harus cepat diobati :

  1. Yang pertama adalah penyakit TBC .

TBC berarti Terlalu Banyak Curiga,

Curiga yang berlebihan seringkali merusak suasana hati, bahkan tidak hanya merugikan diri sendiri akan tetapi merusak orang lain. Curiga terhadap istri, suami, kawan sekantor, tetangga, saudara, hal ini bisa menumbuhkan benih2 permusuhan.

dalam surat Al-Hujurat 12 Allah melarang kita untuk terlalu banyak curiga

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.

Hendaknya kita senantiasa membangun fikiran positif. Baik terhadap diri kita maupun terhadap orang lain, fikiran positif bisa menjadi motivasi yang kuat buat diri kita dan mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain.

2. Penyakit yang kedua adalah FLU

Continue reading →

ASUPAN SEHAT DI BULAN PUASA

Alquran diturunkan sebagai syifa penyembuh dan penawar penyakit, ada beberapa makanan yang memiliki nutrisi penting untuk kesehatan kita dan sangat baik untuk dikonsumsi. terutama di bulan puasa.

  1. SIRIH = BERSIHKAN DIRI DAN HATI

Rasulullah selalu mengajarkan kita untuk selalu bersih. Dalam sebuah riwayat. Diceritakan bahwa Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman” (HR Muslim)

Selain membersihkan diri tentunya jangan lupa untuk membersihkan hati agar kita senantiasa dekat dengan Allah SWT.

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),

2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

3. dan Tuhanmu agungkanlah!

4. dan pakaianmu bersihkanlah,

5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

Continue reading →

MAKNA PUASA

Bahan Kultum

Tema : MAKNA PUASA

P = Pengendalian Diri (self Control)

Puasa (shaum) secara bahasa bermakna al-imsâk atau menahan diri dari sesuatu, seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna puasa seperti ini digunakan dalam QS Maryam ayat 26. Adapun secara istilah, puasa adalah menahan diri dari dua jalan syahwat—mulut dan kemaluan—dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, disertai dengan niat.

Dari pengertian secara bahasa maupun istilah tersebut, jelas puasa hakikatnya adalah ‘menahan atau mengendalikan diri/hawa nafsu’ dari hal-hal yang telah Allah haramkan; bukan semata-mata menahan diri untuk tidak makan/minum atau berhubungan suami-istri di siang hari. Karena itu, esensi puasa sebetulnya adalah tunduk-patuh pada perintah dan larangan Allah SWT. Itulah takwa, yang memang menjadi target yang harus diraih dari amalan puasa Ramadhan.

Jika demikian, sejatinya pasca Ramadhan sekalipun, hingga datang Ramadhan berikutnya, seorang Muslim yang menghayati esensi puasa akan tetap ‘berpuasa’, dalam arti, tetap menahan diri atau mengendalikan hawa nafsunya dari hal-hal yang telah Allah haramkan. Jika ia mampu tetap ‘berpuasa’ pasca Ramadhan, berarti ia telah sukses meraih derajat takwa, sebagai tujuan akhir dari amalan puasanya.

Sayangnya, ‘berpuasa’ pasca Ramadhan nyatanya tidak selalu bisa dilakukan oleh setiap Muslim. Kebanyakan Muslim selesai ‘berpuasa’ begitu Ramadhan usai. Ketakwaan mereka pun ‘selesai’ begitu Ramadhan usai. Mereka kembali dikendalikan hawa nafsu, bukan mengendalikannya. Mereka kembali ‘berbuka’ dengan hal-hal yang haram, bukan ‘imsak’ (menahan diri) dari semua itu. Mereka kembali bermaksiat, bukan bertambah taat. Ini karena, saat Idul Fitri tiba, mereka bukan kembali ke fithrah (taat kepada Allah), tetapi kembali ke fatrah (futûr). Na’ûdzu billâh!

Continue reading →