Category Archives: Khutbah Jumat

PANGGILAN TUHAN YANG TERABAIKAN

 

Hari ini adalah hari pertama keberangkatan Kloter pertama jamaah Haji Indonesia akan diberangkatkan, dan Insya Allah hari Selasa Tanggal 25 Agustus 2015 kita juga akan melepas saudara, tetangga, keluarga kita Jamaah Haji kota Binjai untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu Ibadah Haji. Sesuai dengan perintah Allah

“‏ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ العَالَمِينَ ” ‏(‏ آل عمران‏:97)‏.

Dan Allah telah menetapkan kepada Manusia untuk menunaikan haji ke Baitullah, bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk menunaikannya. Dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya terhadap seluruh alam.

Para ulama telah banyak berbicara tentang definisi dari istithoah (mampu). Mampu secara ekonomi, fisik, ilmu, kesehatan dll. Tetapi permasalahannya adalah tidak ada standar umum untuk mendifinisikan istithoah tersebut, semua terpulang kepada individu kita masing-masing, mau pakai standar iman atau standar nafsu.

Karena kalau kita lihat, Jamaah haji yang berangkat tidak semuanya adalah orang-orang kaya, banyak sekali mereka-mereka yang mohon maaf penghasilannya dan pendapatannya yang hanya pas-pasan, ada tukang bubur naik haji, tukang bakso, tukang becak, tukang cendol naik haji, tetapi mereka meniatkan diri dengan bersungguh-sungguh dengan cara mengumpulkan receh demi receh, ribuan demi ribuan, membagi penghasilannya yang Cuma sedikit untuk bekal tabungan haji. Dan berapa banyak mereka yang diberi rezeki yang cukup oleh Allah bahkan berlimpah, mampu beli rumah dengan harga ratusan juta bahkan miliaran, mobilnya mewah, sanggup melancong ke eropa, singapore, australia tapi tidak sanggup untuk mendaftarkan dirinya untuk berangkat haji ke Baitullah.

Maka cuma kita yang bisa menilai standar istithoah yang kita pakai apakah standar Iman ataukah standar nafsu. Jika pakai standar Nafsu maka harta kita tidak akan pernah cukup untuk memenuhi panggilan Allah. Kita mengulur-ngulur waktu seolah kesempatan kita masih panjang. Kita sibuk mengumpulkan harta untuk beli tanah dan rumah, setelah rumah ada kita kerja siang malam untuk beli mobil, setelah ada mobil kita kerja keras lagi untuk pendidikan anak-anak, mencarikan pekerjaan untuk mereka, menikahkan mereka.. dst. sampai kita tidak sadar umur sudah semakin tua, badan sudah mulai sakit-sakitan, uang habis untuk berobat sementara penghasilan sudah jauh berkurang. Dan kita pun sudah semakin jauh dari definisi istithoah, harta habis, fisik lemah, panggilan Allah pun terabaikan.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Kalian telah lalai dengan sibuk menumpuk-numpuk harta, teruuu….ssss mengejar harta sampai kalian singgah ke liang kubur.

Mungkin kita harus tinjau ulang keislaman kita ketika Allah sudah memberikan rezeki yang cukup kepada kita, tetapi kita masih belum siap memenuhi perintah Allah.

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا،

Barang siapa yang memiliki bekal untuk kesempatan untuk berangkat ke Baitullah dan dia tidak berhaji, maka tidak ada pilihan lain ketika dia mati kecuali mati seperti orang Yahudi atau Nasrani.

 

Kalau Allah sudah memanggil kita sebenarnya tidak ada istilah belum siap.

إنما كان قول المؤمنين إذا دعوا إلى الله ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا سمعنا وأطعنا وأولئك هم المفلحون

Sesungguhnya Tidak ada jawaban lain bagi orang yang beriman ketika dipanggil oleh Allah dan RasulNya kecuali berkata Kami dengar dan kami patuh, mereka itulah orang yang beruntung.

Dalam hidup ini Allah memanggil kita sebanyak tiga kali panggilan untuk bertemu dengan Nya. Panggilan pertama melalui para Muadzin di Masjid untuk datang ke rumah Allah dan bertemu denganNya melalui sholat berjamaah di Masjid.

Panggilan kedua melalui Nabi Ibrahim untuk bertamu ke Baitullah mengerjakan haji

قوله تعالى : وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق

Dan serulah Manusia untuk menunaikan ibadah haji, mereka akan datang dengan berjalan kaki, atau mengendarai unta yang kurus, mereka akan datang dari berbagai penjuru yang jauh.

Panggilan Allah yang ketika akan dititipkan melalui malaikat Izrail.

قل يتوفاكم ملك الموت الذي وكل بكم ثم إلى ربكم ترجعون

Katakanlah kalian akan diwafatkan oleh Malaikat Maut yang diwakilkan kepada kalian, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kalian akan dikembalikan.

Maka sahutilah panggilan pertama dan kedua, sebelum panggilan yang ketiga datang, karena jika Izrail sudah bertamu maka tidak ada yang sanggup untuk mengusirnya.

Mulai hari ini marilah kita kuatkan niat untuk dapat memenuhi panggilan Allah untuk berhaji, tapi niat saja belumlah cukup, azamkan tekad kita dengan membuka tabungan haji, setorlah berapa saja rezeki yang kita punya, ada sejuta setorkan sejuta, ada 500 ribu setorkan, ada 100 ribu setor. Dan berdoalah kepada Allah agar Allah mencukupkan harta kita agar bisa berangkat ke tanah suci memenuhi perintah Allah. Wa idza azamta fatawakkal ala llah.

Mudah-mudahan Allah memudahkan segala urusan kita, melancarkan usaha kita, memberikan rezeki yang baik dan barokah kepada kita, memantapkan keimanan kita, dan pada tahun tahun yang akan datang kita dapat menyusul saudara-saudara kita untuk berangkat menunaikan ibadah haji.

KHUTBAH IDUL FITRI : KONSISTENSI TAQWA PASCA RAMADHAN

KHUTBAH IDUL FITRI
KONSISTENSI TAQWA PASCA RAMADHAN

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَتَبَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ الصِّيَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الُقُرْانَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْـدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَّلِّ وسلم عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَأَصْـحَابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى اخِرِ الزَّمَانِ، أما بعد: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قـَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي الْـقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ:

Maasyiral Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah :
Hari ini adalah hari kemenangan buat kita Umat Islam, karena hari ini kita Insya Allah telah lulus dan diwisuda dari Universitas Ramadhan, dengan gelar Muttaqin. Dengan memetik pelajaran yang banyak, pelatihan yang kontinu, ujian yang berat, semua kita lalui dengan penuh kesabaran, kegigihan, ketekunan dan keikhlasan karena Allah. Namun nilai kelulusan setiap orang tentu berbeda satu dengan yang lainnya, Pengumuman hasil kelulusan dan Nilai Raport dari Ketaqwaan kita bisa dibaca dalam Al-Quran 2: 1-5. Continue reading →

Menjadi Ayah yang Amanah

Menjadi Ayah yang Amanah

 Dalam sebuah Konferensi Internasional Ayah dunia : ada sebuah catatan penting yang menyebutkan bahwa Penyebab sosial prilaku menyimpang pada anak-anak adalah lapar ayah (father hunger).

Banyak anak yang bermasalah dalam hidupnya disebabkan karena Anak-anak tersebut lapar teladan ayah, lapar pelukan dan belaian ayah, lapar waktu ayah, lapar pengorbanan ayah. Banyak anak yang memiliki ayah secara fisik tapi yatim secara psikologis. Karena ayahnya jarang hadir dalam hidupnya.

Dalam kitab tuhfatul maulud Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa penyebab kerusakan sosial di masyarakat, penyebab penyimpangan pada anak2 ketika ditelusuri adalah para ayah yang tidak amanah. Ayah yang tidak amanah terhadap anak2 ini lah yang menyebabkan fenomena lapar ayah saat ini.

Fenomena ”lapar” ayah dapat dibagi dua golongan.

Yang pertama adalah ketidakhadiran sang ayah secara fisik. Yang masuk golongan itu adalah para ayah yang tidak berada dalam keluarga karena bercerai atau meninggal dunia. Golongan kedua adalah ayah yang hadir, tetapi tidak banyak terlibat. Itu adalah ayah yang tinggal di rumah bersama dengan anak-anak, namun dia tidak memiliki banyak waktu untuk bergaul akrab dengan mereka. Dia hadir secara fisik, namun tidak tersedia secara emosinya. Entahlah, hal itu mungkin terjadi karena tuntutan pekerjaan yang menguras emosinya atau malah tidak memiliki bayangan tentang bagaimana melibatkan diri dalam kehidupan sang anak. Continue reading →