Menjadi Ayah yang Amanah

Menjadi Ayah yang Amanah

 Dalam sebuah Konferensi Internasional Ayah dunia : ada sebuah catatan penting yang menyebutkan bahwa Penyebab sosial prilaku menyimpang pada anak-anak adalah lapar ayah (father hunger).

Banyak anak yang bermasalah dalam hidupnya disebabkan karena Anak-anak tersebut lapar teladan ayah, lapar pelukan dan belaian ayah, lapar waktu ayah, lapar pengorbanan ayah. Banyak anak yang memiliki ayah secara fisik tapi yatim secara psikologis. Karena ayahnya jarang hadir dalam hidupnya.

Dalam kitab tuhfatul maulud Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa penyebab kerusakan sosial di masyarakat, penyebab penyimpangan pada anak2 ketika ditelusuri adalah para ayah yang tidak amanah. Ayah yang tidak amanah terhadap anak2 ini lah yang menyebabkan fenomena lapar ayah saat ini.

Fenomena ”lapar” ayah dapat dibagi dua golongan.

Yang pertama adalah ketidakhadiran sang ayah secara fisik. Yang masuk golongan itu adalah para ayah yang tidak berada dalam keluarga karena bercerai atau meninggal dunia. Golongan kedua adalah ayah yang hadir, tetapi tidak banyak terlibat. Itu adalah ayah yang tinggal di rumah bersama dengan anak-anak, namun dia tidak memiliki banyak waktu untuk bergaul akrab dengan mereka. Dia hadir secara fisik, namun tidak tersedia secara emosinya. Entahlah, hal itu mungkin terjadi karena tuntutan pekerjaan yang menguras emosinya atau malah tidak memiliki bayangan tentang bagaimana melibatkan diri dalam kehidupan sang anak.

Ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Indonesia Dwidjo Saputro pernah menyebutkan hasil penelitian dalam Konferensi Keluarga Indonesia: ”Remaja yang bermasalah kebanyakan berasal dari keluarga tanpa ayah. Di antaranya, 85 persen remaja yang masuk penjara, 63 persen remaja bunuh diri, 80 persen pemerkosa yang dilatarbelakangi kemarahan, serta 85 persen penyimpangan tingkah laku.”

Kenapa ada banyak generasi banci di Indonesia? Kenapa tontonan banci laku ditelevisi? Karena banyak Ayah yang  gagal menanamkan dan mentransformasi maskulinitasnya kepada diri anaknya. Ayahnya sibuk dengan mimpi-mimpinya. Sibuk dengan hobinya. Ayahnya keliru memahami apa yang dibutuhkan anak-anaknya. Bukan mobil-mobilan, bukan game terbaru, hadiah terbesar yang diinginkan anak adalah seberapa banyak waktu untuk anaknya, seberapa sering mencium keningnya, seberapa banyak memeluk anak laki-lakinya. Seberapa besar kata-kata yang dihujamkan kepada hatinya lewat telinganya.

Hal yang patut kita ketahui adalah, meskipun seorang anak sudah tidur, bacaan alquran, bisikan cinta dan kasih sayang, alunan ayat tetap bisa didengarkan oleh sang anak.

Karenanya dibutuhkan ayah-ayah pemberani. Berani mengorbankan waktunya untuk anak-anaknya.Berani mengorbankan hobinya untuk meluangkan waktu untuk anaknya. Berani mengorbankan waktunya untuk menata kembali rumah tangganya yang telah salah.

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi.

Banyak diantara kita yang hanya memposisikan diri sebagai ATM buat anaknya. Kita dibutuhkan hanya untuk duit dan duit. Kita besarkan fisiknya tapi jiwanya kurus kering. Banyak Anak-anak yang dibesarkan secara fisik tapi jiwanya sudah dicuri oleh orang lain. Dibelikan handphone paling canggih namun tidak pernah sang ayah menghubunginya.

Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias marah.

Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara.

Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas pembicaraannya yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Bahkan ada anak yang ketika ayahnya pulang dia masuk ke dalam kamarnya, karena tidak suka dengan kehadiran ayahnya.

“AYAH BISU”

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan, mungkin bisa menyemangati para ayah untuk rajin berdialog dengan anak-anaknya.

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:
“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, subhanallah…
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.

Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!

Mari kita buka surah Al Baqarah 132 bagaimana Ibrahim berdialog dengan anaknya :

وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Ibrahim dan Ya’qub telah menanamkan kepada anaknya pendidikan Agama Tauhid yang harus mereka bela sampai mati.

Dalam ayat berikutnya Ya’qub ketika akan dijemput oleh kematian beliau berdialog dengan anaknya.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ اْلمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِي قَالُوْا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهَا وَاحِدًا وَنَحنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Ya’qub selama hidup dengan sabar mendidik anaknya dengan pendidikan agama yang baik, ketika akan dipanggil oleh Allah dia ingin membuktikan apakah pendidikan ini sudah tertanam dalam jiwa anak-anaknya, dia panggil seluruh anaknya kemudian dia berdialog dengan mereka, Ya’qub bertanya :

Wahai Anak-anakku, apa yang kalian sembah ketika aku sudah tiada?

Hari ini kita mungkin sibuk mempersiapkan tabungan, asuransi, warisan, harta, investasi yang banyak untuk anak-anak kita, agar mereka hidup senang ketika kita sudah mati. Tapi Lihatlah bagaimana Ya’qub ketika akan wafat, dia tidak risau dengan harta warisan yang akan ditinggalkannya, dia tidak risau ketika aku mati anakku makan apa. Tapi yang dia risaukan adalah apa yang akan disembah oleh anaknya ketika dia sudah tiada.

Anak-anaknya menjawab : wahai ayah.. kami akan menyembah Tuhanmu Ayah, dan Tuhan ayahnya ayah, kakek dan atok kami Ibrahim, Ismail dan Ishaq, Tuhan yang Esa, dan Kami hanya tunduk patuh kepada Nya.

Llihatlah bagaimana hasil atau output pendidikan ayah kepada anak-anaknya. Kenapa mereka tidak katakan kami akan menyembah Allah, tapi mereka bilang kami akan menyembah Tuhan ayah dan Tuhan ayahnya ayah. Karena ayahnyalah yang mengenalkan Allah kepada mereka, ayahnyalah yang mengajarkan agama kepada mereka yang akan mereka bela sampai mati.

Kemudian kita juga bisa belajar dari Luqman bagaimana beliau menanamkan pendidikan kepada anaknya dalam QS Luqman 31;13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لإنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

  1. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Pelajaran pertama yang dia berikan adalah pelajaran Tauhid. Wahai Anakku jangan kalian mempersekutukan Allah.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

  1. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha mengetahui.

Pelajaran kedua yang dia tanamkan adalah bahwa kebaikan dan keburukan sekecil apapun yang kalian lakukan akan dihitung dan diberi balasan yang setimpal.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

  1. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Pelajaran ketiga adalah penanaman Syariah, Dakwah dan Kesabaran.

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

  1. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Kemudian tak kalah pentingnya adalah penanaman akhlak kepada anak-anaknya.

Itulah beberapa contoh dari Alquran yang mengajarkan kita seorang ayah untuk berdialog dengan anak, menanamkan nilai-nilai yang baik kepada mereka. Karena posisi Ayah sebenarnya sangat vital dalam pembentukan kepribadian anaknya.

Itulah mungkin mengapa Ketika Sholat Jumat yang diundang hanya kita kaum laki-laki, kaum pemuda yang kepada merekalah diserahkan urusan umat ini, yang  memiliki semangat besar, motivasi hebat dan pemikiran dan ide yang brilian dalam membangun bangsa ini, dan juga diundang kaum ayah yang merupakan figur penting dalam posisi penyeimbang, penasehat, pengarah, penuntun mereka dalam membangun bangsa yang besar.

Mudah-mudahan kita menjadi seorang ayah yang amanah, yang mampu mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang kuat dan sholih.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Qs.4: 09

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.”

Ditulis Oleh Abi Shawqy

Diinspirasi dari ceramah Ustazd Bachtiar Nasir tentang Menjadi Ayah yang Amanah

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: