MAULID NABI DALAM UPAYA MENGENANG NABI DAN TERUS MENCINTAINYA

Sejarah Kelahiran

Hari ini kita berada di Bulan Rabiul Awal. Sebuah bulan yang agung karena menurut para ulama dan ahli sejarah di bulan inilah lahir seorang Nabi yang Mulia Muhammad SAW. Pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awal atau ada yang berpendapat 9 Rabiul Awal, pada tahun Gajah. Disebut Tahun Gajah Karena pada waktu itu Bangsa Arab belum menetapkan bilangan Tahun untuk Kalendernya, sehingga hitungan tahun disandarkan pada kejadian-kejadian besar pada tahun tersebut, Pada tahun dimana Muhammad lahir terjadi peristiwa besar yaitu penyerangan Tentara bergajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah dari Yaman yang ingin menghancurkan Ka’bah yang menjadi pusat objek ziarah para wisatawan, dia ingin mengalihkan wisatawantsb ke Yaman untuk menambah devisa wisatanya sampai dia membangun simbol yang lebih besar dan lebih indah untuk menjadi daya tarik. Rupanya usahanya ini tidak berhasil sehingga dia memutuskan untuk menghancurkan Kabah dengan membawa balatentara yang besar. Tapi pasukan besar ini hancur luluh hanya dengan pasukan kecil burung ababil. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam Al-Quran surat Alfiil.

Menurut beberapa ahli sejarah, Ketika Muhammad dilahirkan banyak kejadian-kejadian yang menakjubkan yang terjadi, antara lain api penganut agama majusi di Persia padam setelah 1000 tahun tidak pernah padam, Patung-patung di Kabah jatuh, beliau lahir dalam keadaan bersih dan sudah terpotong tali pusarnya bahkan menurut riwayat sudah terkhitan. Pertumbuhan badannya begitu cepat. Umur 3 bulan dapat berdiri, umur 5 bulan dapat berjalan, umur 9 bulan telah cukup kuat dan berbicara lancar. Beberapa hari Beliau menyusu kepada Ibunya, kemudian disusukan oleh Tsuwaibatul-Aslamiah, budak Abu Lahab yang dimerdekakannya setelah mendengar Nabi Muhammad saw lahir. Sehingga menurut Hadits Abu Lahab dibebaskan dari Azab kubur setiap hari senin karena kegembiraannya menyambut kelahiran Nabi.

Kegembiraan dan kecintaan kepada Nabi inilah yang kemudian oleh generasi-generasi berikutnya diperingati dan dijadikan momentum khusus sampai saat ini. Dalam beberapa literatur ditulis bahwa peringatan maulid Nabi yang pertama kali dilaksanakan adalah oleh Raja Irbil dari Iraq, bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah.

Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:

Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Walaupun ada sebagian kalangan yang membidahkan peringatan maulid tsb karena menyerupai dengan orang kristen.

Ramalan Kedatangan Nabi Akhir Zaman

Nubuat tentang kemunculan seorang Nabi sudah diramalkan dalam kitab-kitab terdahulu. Maulana Abdul Haque Vidyarthi seorang Ulama dari India menulis sebuah buku yang berjudul Muhammad in world Scripture (Muhammad dalam Kitab suci Dunia). Dalam bukunya tersebut dia menjelaskan bahwa Nubuat tentang kelahiran Nabi Muhammad telah ditulis dalam kitab suci yang ada dunia, baik kitabnya Umat Yahudi, Nasrani, bahkan kitab-kitab agama Hindu Budha dan Majusi / Zoroaster.

Sehingga orang-orang yang mengerti tentang kitab mereka sangat menanti-nanti akan kelahiran seorang Nabi. Dan mereka mengenal tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad.

Ketika Muhammad berusia 12 tahun, ia diajak pamannya AbuThalib berdagang ke negeri Syam,dalam perjalanan tersebut ia selaludinaungi awan putih dan kemudian bertemu dengan seorang pendeta nasrani bernama Bakhiraa. Kemudian pendeta ini mengamati secara mendalam sosok Muhammad dan awan putih yang menaunginya. Kemudian ia berpesan agar berhati-hati terhadap  orang Yahudi karena anak ini kelak akan menjadi Rasul penutup zaman.

Ketika Muhammad menerima wahyu pertama melalui malaikat Jibril di Gua Hiro, Nabi merasa ketakutan kemudian dibawa Khadijah kepada pamannya Waraqah bin Naufal seorang Pendeta, Waraqah mengatakan itu adalah Malaikat yang datang kepada nabi Musa, kalau saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu aku yang akan menjadi pembelamu.

Salman Al-Farisi seorang sahabat yang berasal dari Persia, yang terkenal dengan strategi perang Khandaqnya, dahulu adalah seorang Majusi Penyembah api, kemudian dia tertarik kepada agama Nashrani sehingga dia memeluk agama tersebut dan tinggal bersama pendeta di gereja karena dia diusir oleh ayahnya setelah sebelumnya kakinya dirantai besi.

Ketika Pendeta tersebut akan meninggal Dia berpesan,”Wahai anakku. akan datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekah. Di antara dua pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Setelah melakukan perjalanan panjang ke tanah Arab sampai dia ditangkap dan dipaksa menjadi budak, akhirnya dia mendengar kabar tentang Kenabian yang dinantikannya. Dia lantas segera menjumpai nabi Muhammad dan ingin membuktikan tentang kebenaran kenabiannya.

Kata Salman,”Telah sampai kepadaku berita, kalau engkau orang yang baik, (datang) bersama para sahabatmu yang asing lagi memerlukan bantuan. Ini ada sesuatu untuk sedekah. Aku melihat kalian sangat berhak daripada orang lain,” maka aku pun mendekatkan (sedekah itu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Makanlah,” tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menahan tangannya dan tidak mau makan. Salman berkata dalam hati: “Ini tanda pertama”.

Pada kesempatan berikutnya, Salman mengumpulkan sesuatu dan Rasulullah telah tinggal di Madinah. Salman berkata,”Aku melihatmu tidak mau makan sedekah. Ini adalah hadiah, aku ingin memuliakan dirimu dengannya,” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya, dan menyuruh para sahabat ikut makan bersama beliau. Dalam hati, Salman berkata: “Ini tanda kedua”.

Berikutnya, Salman mendatangi Rasulullah ketika berada di Baqi Gharqad, yaitu ketika sedang melayat jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua kain, duduk di antara para sahabat.

Maka, Salman datang dan melontarkan salam kepada beliau. Setelah itu, ia berputar ke belakang untuk melihat punggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk memastikan tanda kenabian yang disebutkan oleh pendeta. Ketika Rasulullah menyadari keingintahuan Salman, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan kain atasnya dari punggung, dan Salman menyaksikan tanda kenabian tersebut, sebagaimana ia mengenalnya dari cerita yang pernah ia dengar.

Kemudian, Salman segera mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menciumi tanda itu dan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Salman: “Kemarilah,” maka aku ke depan beliau, dan aku bercerita kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . . .

Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengerti tentang Kitab mereka sesungguhnya mereka kenal dan tau akan kedatangan Nabi Muhammad sebagaimana yang dijelaskan Dalam QS Albaqarah 146:

”Orang-orang yang telah kami beri Al-Kitab kepada mereka, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui.”

Jika orang-orang Yahudi dan Nasrani saja begitu mengenal Muhammad, lantas bagaimana kita yang mengaku beriman, apa kita mengenal Nabi kita? Karena tak kenal maka tak sayang, kalau tak sayang bagaimana akan mencintai beliau. Rasulullah menegaskan :

“Demi Allah, belum beriman seorang hamba sampai aku lebih dicintainya melebihi cintanya kepada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”

Hari ini banyak diantara kita mengaku beriman, tapi kita tidak mencintai beliau, bahkan kita tidak kenal siapa beliau. Kita lebih mengenal pesepak bola, bintang film, artis dan selebritis, bahkan para remaja mengidolakan mereka sampai menggilai mereka, semua hal yang berhubungan dengan idola kesayangannya dia ikuti, gaya bicaranya, pakaiannya, rambutnya bahkan gaya hidupnya. artis yang keluar dari penjara gara-gara kasus seksual malah disambut dan dielukan seperti pahlawan. Mereka dicekoki setiap hari dengan gaya hidup selebritis, dari tontonan film, sinetron, musik dsb. Sementara mereka tidak pernah belajar tentang sirah nabawiyah, disekolah minim jam agama, dirumah orang tua tak mampu jadi teladan, ayah memposisikan dirinya hanya menjadi ATM, ibu memposisikan dirinya sebagai pembantu. Sehingga anak belajar dari TV dan internet yang lebih banyak memberi dampak negatif.

Padahal orang yang paling pantas diidolakan adalah Rasulullah. Apapun profesi dan pekerjaan kita.kalau kita seorang pedagang, Rasul adalah seorang bisnisman yang jujur dan sukses, usaha khadijah menjadi maju sejak dikelola oleh Rasul, beliau adalah presiden yang sederhana dan perduli terhadap rakyatnya dan dicintai oleh mereka, beliau adalah jenderal yang ditakuti di medan perang.hampir seluruh peperangan dapat meraih kemenangan walaupun dengan pasukan yang jauh lebih sedikit. Beliau adalah suami dan ayah yang penyayang, sahabat yang setia, pemimpin yang adil. Lantas siapa lagi yang paling pantas diidolakan dan dicintai kecuali Rasulullah. Semestinya kalau kita mengaku beriman dan mencintai Rasulullah maka kita meneladani Nabi dalam semua aspek kehidupannya. Baik kepribadiannya, akhlaknya, gaya hidupnya, sampai hal-hal kecil yang dilakukannya. Kalau ada yang bertanya apa hukum memelihara jenggot. Jawab ini sunnah karena Nabi memelihara janggutnya dan memerintahkan untuk memeliharanya. banyak orang yang meniru gayanya orang-orang kafir dengan alasan trend, rambutnya dibuat seperti kuda, kulitnya ditato, alisnya dicukur. kenapa kita tidak mau meniru gayanya Rasulullah. Ini adalah contoh sederhana saja sebagai bukti kecintaan kita kepada beliau.

Para Sahabat Mencintai Nabi

Kalau kita ingin belajar bagaimana mencintai Nabi, kita bisa melihat bagaimana para sahabat begitu mencintai Rasulullah melebihi keluarganya, dirinya dan hartanya.

Suatu hari Umar berkata kepada Nabi :

فقال له عمر يا رسول الله لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي فقال النبي صلى الله عليه وسلم لا والذي نفسي بيده حتى أكون أحب إليك من نفسك فقال له عمر فإنه الآن والله لأنت أحب إلي من نفسي فقال النبي صلى الله عليه وسلم الآن يا عمر

Ya Rasulullah engkau adalah orang yang paling aku cintai daripada apapun kecuali diriku, Rasul menjawab “tidak ya Umar, sampai engkau mencintaiku melebihi cintamu terhadap dirimu” Umar mengatakan “kalau begitu ya Rasulullah, demi Allah sekarang aku lebih cinta kepadamu daripada diriku sendiri” kata Rasul “Nah..sekarang baru benar hai Umar”

seorang sahabat yang bernama Thouban datang seraya berkata “Wahai Rasulullah, apakah kami harus pergi ke surga?” Rasulullah S.A.W. bersabda “Memangnya ada apa Thouban? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Thouban berkata “Karena di hari kiamat nanti, Allah akan memberikanmu buku catatan amal yang penuh dengan begitu banyak amal baik, kau akan berada di tempat yang tinggi bersama para nabi dan anbiyya, sedangkan orang-orang seperti kami akan berada di surga tingkat rendah. Wahai Rasulullah, apa tujuannya berada di surga jika kami tidak bisa bersamamu? Tidak bisakah kita tinggal di Madinah saja dan menikmati kehidupan dimana kita bangun bersama, duduk bersama, dan shalat bersama?”
Rasulullah S.A.W. bersabda kepadanya “Kau akan bersama dengan seseorang yang kau cintai. Belajarlah caranya mencintaiku, maka kau akan bersamaku.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari :

عن أنس رضي الله عنه: ((أن رجلاً سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن الساعة فقال: متى الساعة؟ قال:” وماذا أعددت لها “؟ قال: لا شيء إلاَّ أني أحب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، فقال:” أنت مع من أحببت “)). قال أنس: فما فرحنا بشيء فرَحَنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((أنت مع من أحببت))، قال أنس: فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر، وأرجو أن أكون معهم بحبي إياهم وإن لم أعمل بمثل أعمالهم.

Dari anas: “ Ada seorang Lelaki yang bertanya kepada Rasulullah, kapan hari kiamat? Rasul menjawab “apa yang kau persiapkan untuk menyambutnya” dia mengatakan “tidak banyak ya Rasulullah hanya aku mencintai Allah dan RasulNya” Nabi menjawab “Engkau akan bersama orang yang kau cintai di hari Kiamat”


عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَيُّ الْخَلْقُ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا ؟قَالُوا : الْمَلائِكَةُ , قَالَ : ” وَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ” , قَالُوا : فَالنَّبِيُّونَ , قَالَ : ” وَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ ” , قَالوا : فَنَحْنُ , قَالَ : ” وَمَا لَكُمْ لا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ ” , قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ : ” أَلا إِنَّ أَعْجَبَ الْخَلْقِ إِيمَانًا لَقَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كِتَابٌ يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا ” .

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan suatu ketika selepas shalat shubuh, seperti biasa Rasulullah SAW duduk menghadap para sahabat. Kemudian beliau bertanya, “Wahai manusia siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?”. “Malikat, ya Rasul,” jawab sahabat. “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?” Tukas Rasulullah. “Kalau begitu, para nabi ya Rasulullah” para sahabat kembali menjawab “Bagaimana nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?” kembali ujar Rasul. “Kalau begitu para sahabat-sahabatmu, ya Rasul”. “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku.” Ujar Rasulullah.

Lalu Nabi SAW terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau bersabda, “Yang paling menakjubkan imannya,” ujar rasul “adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku, tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.”

Kemudian, Nabi SAW meneruskan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 3, “Mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.”

Lalu Nabi SAW bersabda, “Berbahagialah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku” Nabi SAW mengucapkan itu satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi SAW mengucapkan kalimat kedua itu hingga tujuh kali.

Rasulullah sangat mencintai kita, bahkan sampai maut akan menjemput beliau, yang paling sering ditanyakannya adalah Umatku.. Umatku… beliau tidak bertanya dimana hartanya, dimana anaknya, dimana  keluarganya.. yang difikirkannya adalah bagaimana nasib kita umatnya..

Semoga momentum Maulid Nabi ini dapat menambah kecintaan kita kepada beliau agar dapat bertemu dengannya dan mendapatkan syafaatnya di akhirat.. amin ya rabbal alamin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: