POSISI IMAM PADA SHOLAT JANAZAH

Dimanakah Posisi Imam ketika berdiri untuk menyolatkan janazah ?

Para Ulama berbeda dalam masalah ini. Sejumlah Ulama berpendapat : Imam berdiri ditengahnya baik laki-laki maupun wanita.

Para ulama yang lain berkata : jika mayat adalah wanita maka posisi imam di tengahnya, dan jika pria posisi imam di kepalanya.

Dan sebagian lagi berkata : baik laki maupun perempuan imam berdiri di dadanya. Ini adalah pendapat ibnul Qasim dan pendapat Abu hanifah.

Sedangkan Maliki dan Syafii tidak menetapkan batas tentang itu.

Pendapat lain mengatakan : boleh saja berdiri dimana imam suka.

 

SEBAB PERBEDAAN

Sebab yang mendasari perbedaan adalah atsar-atsar yang berkaitan dengan hal ini juga berbeda. Dalam Hadits yang dikeluarkan dari Bukhari dan Muslim dari Hadits Samurah bin Jundub dia berkata

“صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم على أم كعب ماتت وهي نفساء، فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم للصلاة على وسطها”

 “Aku sholat (jenazah) di belakang Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, mensholatkan jenazah Ummu Ka’ab yang meninggal dunia ketika masa nifas (setelah melahirkan). Ketika itu Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam berdiri di sebelah pinggangnya.”

Ada hadits lain dari Abu Dawun dari Hadits Hammam ibnu Ghalib dia berkata :

“صليت مع أنس بن مالك على جنازة رجل فقام حيال رأسه، ثم جاءوا بجنازة امرأة فقالوا يا أبا حمزة صل عليها، فقام حيال وسط السرير، فقال العلاء بن زياد، هكذا رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي على الجنائز كبر أربعا وقام على جنازة المرأة مقامك منها ومن الرجل مقامك منه، قال نعم،

Aku shalat jenazah bersama Anas bin Malik atas seorang laik-laki, beliau berdiri bertepatan pada hadapan kepala jenazah, kemudian mereka membawa jenazah seorang perempuan, mereka mengatakan : “Ya Abu Hamzah (Anas bin Malik), shalatlah atasnya.” Lalu Anas bin Malik berdiri di hadapan pertengahan pusar perempuan itu. Al-‘Ila’ bin Ziyad (yang hadir pada ketika itu) bertanya kepada Anas, “Apakah seperti ini engkau melihat Nabi SAW berdiri di hadapan jenazah pada posisi berdiri engkau untuk seorang perempuan dan posisi berdiri kalian untuk laki-laki ?” Anas bin Malik menjawab : “Ya”.

Maka Ulama berbeda dalam memahami hal ini. Diantara mereka memandang bahwa posisi Rasulullah SAW yang berbeda dalam hal ini menunjukkan kebolehan bukan pembatasan.

Ada yang memandang bahwa perbuatan Nabi tersebut menjadi syariat yang menunjukkan pembatasan. Dan mereka terbagi menjadi dua kelompok : diantara mereka ada yang mengambil hadits samurah bin Jundub untuk menyetujui kesahihannya. Mereka berkata “wanita dalam hal ini sama dengan pria” karena hukum asalnya adalah satu kecuali terdapat perbedaan yang syar’i.

Diantara mereka ada yang menshohihkan hadits ibnu Ghalib dan berkata hadits tersebut adalah tambahan dari Hadits Samurah maka wajib berpedoman padanya. Dan tidak terdapat pertentangan antara kedua hadits tsb.

Adapun mazhab Ibnu Qasim dan Abu hanifah menurut Ibnu Rusyd “aku tidak pernah tau / tidak pernah mendengar tentang sandaran dalilnya kecuali yang diriwayatkan Ibnu Masud tentangnya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: