KATA-KATA TAKZIAH ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah 155 :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqoroh : 155)

Sesungguhnya kematian adalah salah satu dari cobaan yang Allah berikan kepada manusia. Setiap manusia pasti akan mengalami kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Ntah itu orang tua, istri, suami atau juga anak yang sangat kita sayangi. Target dari hasil ujian yang Allah berikan ini adalah membentuk manusia menjadi orang yang sabar, yaitu orang-orang yang dengan segenap hati menyadari bahwa semua ini adalah Milik Allah dan pasti akan dijemput Allah kembali.

SUATU hari, anak Abu Thalhah meninggal dunia. Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, berkata kepada orang-orang yang menjenguk anaknya, “Janganlah ada yang memberi kabar kepada Abu Thalhah hingga akulah sendiri yang memberi kabar duka ini.”

Berkata begitu, Ummu Sulaim segera merapikan jenazah putranya.

Malam harinya, Abu Thalhah pulang. Ia segera menanyakan keadaan anaknya.

“Ia tenang seperti sedia kala,” jawab Ummu Sulaim.

Istri taat ini bergegas menyuguhkan makan malam bagi suaminya. Tak lupa mematut diri di depan cermin agar tampak lebih indah dari biasanya.

Melihat istrinya yang berhias cantik, Abu Thalhah pun bergairah. Malam itu pun Ummu Sulaim melayani suaminya di atas tempat tidur.

Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya tampak puas dan tenang jiwanya, ia pun berkata lembut, “Wahai Abu Thalhah, bila ada keluarga yang meminjam sesuatu kepada keluarga yang lain, lalu mereka meminta kembali barang pinjaman itu, tetapi keluarga itu menolak mengembalikan pinjaman itu, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Sungguh, sekali-kali mereka tidak berhak untuk menolaknya karena barang pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah dengan segera.

Mendengar jawaban itu, Ummu Sulaim tersenyum, kemudian berkata lagi, “Sesungguhnya anakmu adalah barang pinjaman dari Allah, dan Allah telah mengambilnya.”

Seketika Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’, Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Kehilangan seorang anak merupakan perkara yang sangat menyedihkan, dan tidak semua orang mengalami hal ini. Mungkin kita semua disini hanya bisa mengucapkan sabar kepada orang tuanya. Walaupun kita tidak sanggup memahami seberapa besar kesedihan hati mereka.

Yang paling baik menjadi teladan kita adalah Rasulullah. Beliau adalah orang yang paling sering mengalami kehilangan orang yang dicintai. Mulai dari kehilangan ayah ketika masih dalam kandungan, kehilangan ibu ketika masih berusia kanak-kanak, kehilangan kakek dan paman yang mengasuhnya, kehilangan istri yang setia membantu perjuangannya, sampai kehilangan 6 orang anaknya. Semua anaknya meninggal sebelum beliau kecuali Fathimah yang meninggal beberapa bulan setelah kematian beliau.

Jika kehilangan seorang anak saja sudah begitu berat, maka bagaimana pula kehilangan 6 orang anak sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah. Karenanya Allah menyediakan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang ditinggalkan oleh anaknya. Sebagaimana yang disabdakan Rasul.

إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي ؟ فيقولونَ : نَعَمْ . فيقولُ : قَبَضْتُمْ ثَمَرَة فُؤَادِهِ ؟ فيقولونَ : نَعَمْ . فيقولُ : مَاذَا قَالَ عَبْدِي ؟ فيقولونَ : حَمدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فيقول اللهُ تَعَالَى : ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتاً في الجَنَّةِ ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ

“Jika anak seseorang meninggal maka Allah berkata kepada para malaikatnya, “Apakah kalian telah mengambil nyawa putra hambaku?”, mereka menjawab, “Iya”. Allah berkata, “Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?”, mereka menjawab, ‘Iya”. Allah berkata, “Apakah yang diucapkan oleh hambaKu?”, mereka berkata, “HambaMu memujimu dan beristrjaa’ (mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun)”. Allah berkata, “Bangunkan bagi hambaKu sebuah rumah di surga dan namakan rumah tersebut dengan “Rumah pujian” (HR At-Thirmidzi no 1021 dan dishahihkan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1408)

Tapi sebagai manusia biasa, ketika ditinggalkan oleh orang yang dicintainya beliaupun juga bersedih dan menangis.

Anas bin Malik berkata:
أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَى ابْنِهِ إبْرَاهيمَ – رضي الله عنه – ، وَهُوَ يَجُودُ بِنَفسِهِ ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – تَذْرِفَان . فَقَالَ لَهُ عبدُ الرحمانِ بن عَوف : وأنت يَا رسولَ الله ؟! فَقَالَ : (( يَا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ ))

ثُمَّ أتْبَعَهَا بأُخْرَى ، فَقَالَ : (( إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ ))

“Ketika Rasulullah disisi anaknya Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallampun mengalirkan air mata.

Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)”. Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, “Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”(HR Al-Bukhari no 1303)

Tangisan adalah wujud dari kasih sayang, namun Rasul melarang kita untuk meratapi mayit dengan berlebihan. Kami yang hadir disini hanya bisa berpesan kepada keluarga ahli musibah untuk senantiasa bersabar atas kehilangan buah hati yang sangat dicintai, kelak kata Rasul anak itu akan menjadi penghalang orang tuanya dari api neraka.

Dan kematian ini juga merupakan nasehat buat kita yang hadir disini bahwa kematian akan segera menjemput kita cepat atau lambat.

Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, dia akan datang menjemputmu…

 

Rasulullah bersabda

Aku tinggalkan kepada kalian 2 penasehat, penasehat yang bisa berbicara yaitu Al-Quran, dan penasehat yang diam saja, yaitu kematian.

Penasehat pertama hanya kita biarkan berdebu di lemari kita tanpa pernah kita baca, apakah penasehat kedua yaitu kematian tidak mampu juga menjadi peringatan bagi kita. Beruntung sekali Anak kita yang meninggal ini langsung masuk surga karena tidak memiliki dosa, lantas bagaimana dengan kita, apakah kita akan mati dalam husnul khatimah, atau justru mati dalam suul khatimah.

Banyak-banyaklah kita mengumpulkan bekal menuju kematian. Fatazawwadu fainna khairazzadittaqwa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: